pacaran untuk belajar
bukan
belajar untuk pacaran

my idola

my idola

CHARLY TERBAIK

CHARLY TERBAIK
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Cari Blog Ini

RSS
Tampilkan postingan dengan label novel eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel eropa. Tampilkan semua postingan

pirates of the caribbean

Pernikahan Elizabeth Swann (Keira Knightley) dan Will Turner (Orlando Bloom) terganggu oleh kehadiran Lord Cutler Beckett (Tom Hollander) dari East India Trading Company. Beckett mengancam akan mengeksekusi mereka dan mantan-komodor James Norrington (Jack Davenport) karena telah membantu Jack Sparrow melarikan diri. Beckett menjanjikan pengampunan jika Will bisa menangkap Jack Sparrow dan mengambil kompasnya dan sebelum hal itu dilakukan, Elizabeth akan tetap di tahan, Will pun menyetujuinya. Setelah melalui perjalanan panjang, Will berhasil menemukan kapal Black Pearl terdampar di kepulauan Pelegosto, sebuah kepulauan yang dihuni suku kanibal dimana Jack dan kru kapalnya ditangkap. Jack awalnya berniat bersembunyi di sana setelah didatangi oleh "Bootstrap Bill" Turner, ayah Will yang sekarang diperbudak di kapal Flying Dutchman, sebelum akhirnya dia ditangkap suku kanibal tersebut. Bootstrap "mengantarkan" Black Spot, sebagai tanda bahwa inilah saatnya Jack membayar utangnya. Tiga belas tahun sebelumnya, Davy Jones, tuan dari Bootstrap, "menghidupkan" kembali kapal Black Pearl dan menjadikan Jack sebagai kapten. Sebagai gantinya, Jack harus mengabdikan dirinya di atas kapal Flying Dutchman selama 100 tahun atau dirinya akan ditelan Kraken, sang monster laut.
Will, Jack dan kru kapal berhasil melarikan diri dari Pelegosto, dan secara tak sengaja bertemu dengan Pintel and Ragetti, mantan kru kapal Black Pearl yang kemudian mereka rekut sebagai kru. Jack menunjukan sebuah gambar kunci yang ia janjikan akan membawa kekayaan dan kemahsyuran. Ia dapat menemukan kunci itu dengan bantuan sebuah kompas, namun sayangnya, ditangannya, kompas itu tidak dapat memberikan petunjuk apa-apa; jarum jamnya hanya berputar-putar tak tentu arah. Jack akhirnya menyetujui untuk memberikan kompas itu kepada Will jika Will mau membantu mendapatkan kunci itu. Mereka juga meminta bantuan kepada Tia Dalma (Naomie Harris), seorang dukun wanita. Dari Tia, Jack mengetahui bahwa kompas tersebut selalu menunjuk kepada apa yang paling diinginkan oleh orang yang memegangnya. Kompas itu tidak berfungsi ditangan Jack karena Jack tidak tahu apa yang sebenarnya ia kejar. Kunci itu, kata Tia, akan membuka Dead Man's Chest, sebuah peti yang berisi jantung Davy Jones. Siapapun yang memiliki jantung itu, akan menguasai lautan. Setelah kembali ke laut, Davy Jones berhasil menemukan mereka. Sparrow tiba-tiba mengajukan usul untuk memberikan Will sebagai ganti atas jiwanya. Tetapi Jones meminta lebih, ia meminta 100 nyawa untuk ditukarkan dengan nyawa Jack dengan tetap mengambil Will sebagai "uang muka."
Sementara itu, Gubernur Weatherby Swann berhasil membebaskan Elizabeth. Elizabeth pun datang menemui Beckett, ia memaksanya untuk mengesahkan surat marque (Letter of Marque)— sebuah dokumen yang diperuntukan untuk menjadikan Sparrow sebagai Privateer, tetapi yang terjadi sebenarnya adalah dia ingin mendapatkan izin untuk berlayar mencari Will. Ia pun pergi ke Tortuga untuk mencari Will, tetapi ia malah menemukan Jack dan Gibbs di sana, sedang merekrut kru-kru baru. "Kru" itu sebenarnya tidak akan dijadikan kru kapal mereka, melainkan sebagai kru Davy Jones (ingat, Davy menugaskan Jack untuk mencari 100 nyawa), karenanya mereka mencari orang-orang yang sudah patah semangat dan tidak memiliki keinginan untuk hidup, dan salah satu diantara mereka adalah mantan-komodor James Norrington yang karirnya hancur akibat ulah Jack. Jack kemudian berhasil meyakinkan Elizabeth bahwa ia akan menemui Will jika Elizabeth membantunya mendapatkan peti Davy. Dengan menggunakan kompas Jack, ia mendapatkan petunjuk. Mereka kemudian berlayar menuju Isla Cruces tanpa menyadari bahwa Davy Jones juga sedang berlayar ke sana. Dalam suatu adegan, muncul sebuah "petunjuk" bahwa Jack dan Elizabeth sebenarnya saling menyukai, hal ini ditunjukkan ketika kompas dipegang oleh Jack, maka jarumnya akan mengarah ke Elizabeth, begitu pula sebaliknya.

Jack Sparrow membuka peti yang berisi jantung Davy Jones
Di Isla Cruces, Jack, Norrington, dan Elizabeth berhasil menemukan peti itu. Will, yang berhasil melarikan diri dari kapal Dutchman dengan bantuan ayahnya, Bootstrap Bill, datang kepulau membawa kunci peti yang berhasil ia rebut dari Davy. Will ingin menusuk jantung itu untuk membunuh Davy Jones sehingga ia bisa membebaskan ayahnya sementara Jack menginginkannya tetap berdetak sehingga ia bisa menguasai Davy Jones (dan secara tidak langsung menguasai lautan), Norrington pun menginginkan jantung itu dengan tujuan untuk mendapatkan kembali kehormatannya sebagai komodor; mereka pun berduel. Tapi duel mereka terganggu oleh kedatangan Dutchman, Norrington berhasil mencuri jantung dan Letter of Marque kemuduian lari dengan meninggalkan peti yang kosong. Kru Davy Jones kemudian membawa peti itu, tanpa menyadari bahwa peti itu sebenarnya kosong.

Jack sedang berusaha melawan Kraken.
Duthcman berusaha mengejar Black Pearl, kapal Jack, tapi gagal mendapatkannya. Sebagai gantinya, Jones memanggil Kraken. Entah karena strategi atau memang ia adalah seorang pengecut, Jack meninggalkan kapal dengan perahu cadangan, tetapi akhirnya ia kembali untuk menyelamatkan krunya. Ia kemudian memerintahkan untuk meninggalkan kapal sebelum Kraken menenggelamkannya. Menyadari bahwa Kraken itu sebenarnya hanya mengincar nyawa Sparrow, Elizabeth menjebak Jack dan memborgolnya di atas perahu. Kemudian Elizabeth membohongi kru kapal dengan mengatakan bahwa Jack tidak ingin meninggalkan Black Pearl dan ingin mati bersamanya. Jack berhasil meloloskan diri namun terlambat, Kraken muncul beberapa meter dibelakangnya. Jack bersama kapalnya kemudian ditarik tenggelam ke dasar laut. Davy Jones mengatakan bahwa utang sudah dilunasi, tetapi begitu ia menemukan bahwa peti miliknya kosong, ia marah dan mencari pencurinya. Semetara itu, Norrington menghadiahkan jantung tersebut kepada Beckett, dan sebagai gantinya, Beckett mengembalikan jabatan dan kehormatan Norrington sebagai komodor; kini Beckett menguasai lautan.
Sisa-sisa kru Black Pearl bersama Will dan Elizabeth mengunjungi Tia Dalma. Setelah menceritakan kejadian sebelumnya, Tia menanyakan apakah mereka rela berpetualang ke ujung dunia (World's End) untuk membawa kembali Jack dan kapalnya. Semua menyetujuinya, kemudian Tia berkata bahwa mereka membutuhkan kapten yang mengetahui daerah itu. Sangat mengejutkan, kapten Black Pearl sebelumnya, Captain Barbossa (Geoffrey Rush)-lah yang datang dan ditunjuk sebagai kapten mereka
Setelah kredit selesai, ada sebuah tayangan selingan yang memperlihatkan apa yang terjadi dengan anjing yang ditinggalkan di pulau kanibal. Ternyata mereka menjadikannya sebagai pemimpin suku yang baru, menggantikan Jack

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

harry potter 5

Tidak banyak penyihir yang percaya (atau mau percaya) bahwa Voldermort telah kembali, termasuk Kementerian Sihir. Harry dan Dumbledore dianggap menyebar kabar bohong dan dianggap terganggu jiwanya. Meskipun demikian, masih banyak orang yang percaya pada Dumbledore, dan mereka inilah yang tergabung dalam Orde Phoenix. Namun karena situasi belum memungkinkan, mereka bergerak secara diam-diam untuk menghindari kecurigaan dari Kementerian. Mereka menggunakan kediaman Sirius, Grimmauld Place nomer 12 sebagai Markas Besar, sehingga Sirius tidak lagi dalam pelarian (tapi tetap bersembunyi karena pihak kementrian masih mencarinya).
Sementara itu, Harry yang diawasi siang-malam (tanpa sepengetahuannya) oleh anggota Orde, semakin sering mengalami sakit pada bekas lukanya. Emosinya sering tak terkendali. Pada suatu malam ia dikejutkan dengan hadirnya dementor di Privet Drive, yang hendak menyerang dirinya dan Dudley. Untunglah ia berhasil menghasilkan patronus untuk melawan mereka. Namun akibat dari hal ini, dia nyaris diusir oleh pamannya (karena dikira menyerang Dudley), menghadapi persidangan di Kementerian Sihir dan terancam dikeluarkan dari Hogwarts.
Di persidangan tak seorangpun percaya bahwa ada Dementor berkeliaran di daerah Muggle. Tapi ketika Dumbledore mengatakan bahwa Kementerian tidak punya hak untuk mencampuri urusan sekolah, termasuk dalam hal ini mengeluarkan sorang murid, Harry pun bebas dari segala tuduhan.
Namun mimpi buruk Harry masih berlanjut. Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun, Harry diajar oleh seorang guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang berasal dari Kementerian Sihir, Dolores Umbridge. Harry berulang kali mendapat detensi karena mengatakan bahwa Voldermort telah kembali. Harry dan seluruh murid kelas 5 akan menjalani ujian OWL, dimana mereka sudah harus berpikir pelajaran apa saja yang akan (dan mau) menerima mereka di kelas 6, serta tentang karier apa yang mereka minati selepas sekolah. Di tengah tekanan Umbridge dan segala dekritnya, Harry, atas dukungan penuh dari Ron dan Hermione, memimpin sekelompok anak untuk mempraktekkan pertahanan terhadap ilmu hitam dalam sebuah kelompok yang mereka namai Laskar Dumbledore (LD). LD beranggotakan cukup banyak anak, selain Ron, Hermione, Ginny, Neville, Luna Lovegood, Fred & George, Cho Chang, dan beberapa anak dari asrama lain yang kelihatannya lebih ingin tahu apakah benar pikiran Harry terganggu seperti yang diberitakan koran-koran, atau ingin tahu cerita yang sebenarnya tentang kematian Cedric dan kembalinya Voldermort.
Penglihatan yang dialami Harry akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa dia dan Voldermort, entah bagaimana, saling terhubung. Harry merasakan amarah dan kesenangan Voldermort. Suatu saat hal ini menguntungkan, karena menyelamatkan Arthur Weasley dari maut. Tapi Dumbledore kemudian menugaskan Snape untuk mengajari Occlumency, untuk menutup pikirannya dari Voldermort. Harry dan Snape yang sama-sama tidak senang dengan hal ini, tetap melakukannya, sampai suatu saat Harry memasuki Pensieve Snape dan mendapati alasan mengapa ia begitu membenci ayahnya dan Sirius. Snape sangat sangat marah ketika memergoki Harry dan menolak untuk mengajarinya sejak saat itu.
Hagrid yang baru saja kembali setelah sekian lama pergi, ternyata membawa serta Grawp, adiknya yang raksasa asli. Ia dan Madame Maxime sebenarnya ditugasi Dumbledore untuk mendekati para raksasa agar tidak bergabung dengan Voldermort. Tapi tidak berhasil, karena ternyata para Pelahap Maut telah mendekati mereka terlebih dahulu. Ketika pulang, Hagrid membawa Grawp (karena ibu mereka telah meninggal) yang bertubuh mungil (untuk ukuran raksasa).
Klimaks dari seri ke-5 ini adalah pertempuran di Kementerian Sihir. Harry dipancing untuk pergi ke Kementerian Sihir, di mana ternyata di sana sudah menunggu para Pelahap Maut. Mereka menjebak Harry untuk mengambil Ramalan di Departemen Misteri. Ramalan tentang dirinya dan Voldermort. Harry, Ron, Hermione, Luna dan Neville berusaha menyelamatkan diri dari serangan para Pelahap Maut, ketika sejumlah anggota Orde Phoenix datang membantu. Terjadilah pertempuran sengit, dimana akhirnya Sirius terbunuh.
Di akhir cerita Dumbledore memberitahu Harry tentang Ramalan tersebut, yang ternyata dibuat oleh Professor Trelawney, bahwa untuk bertahan hidup, ia dan Voldermort harus saling membunuh, karena yang satu tidak bisa bertahan bila yang satu tetap hidup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

harry potter 2

Tentang penciptaan Harry Potter

Ide tentang Harry Potter pertama kali tercetus dalam pikiran J. K. Rowling ketika menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Pada waktu itu, dia baru saja bercerai dan mengambil inisiatif untuk menjadikan Harry Potter sebagai inspirasi hidupnya. Dia menghabiskan waktu di dalam perjalanannya itu dengan memikirkan plot yang lengkap tentang ceritanya itu. Di situs webnya, Rowling menceritakan pengalamannya itu:
Saya telah menulis hampir tanpa jeda sejak umur enam tapi sebelumnya saya tidak pernah merasa begitu bergairah akan suatu gagasan. Saya hanya duduk dan berpikir, selama empat jam (menunggu keterlambatan kereta api), dan semua detel bermunculan di otak saya, dan anak laki-laki ceking berambut hitam dan berkaca mata yang tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir menjadi semakin lama semakin nyata bagi saya.
Pada tahun 1995, buku pertama berjudul Harry Potter and Philosopher's Stone (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Harry Potter dan Batu Bertuah) selesai dibuat dan naskahnya dikirimkan ke beberapa agen. Agen kedua yang dicobanya, Christopher Little, menawari untuk mewakilinya dan mengirimkan naskah itu ke Bloomsbury. Setelah delapan penerbit lainnya menolak Philosopher's Stone, Bloomsbury menawarkan uang muka £3.000 untuk menerbitkannya.[5]
Walaupun Rowling menyatakan bahwa ia tidak memiliki target khusus mengenai umur pembacanya ketika ia mulai menulis buku-buku Harry Potter, penerbitnya pada permulaannya telah menetapkan target pembacanya antara umur sembilan hingga sebelas.[6] Pada malam sebelum penerbitan, Joanne Rowling diminta oleh penerbitnya untuk menggunakan nama samaran yang lebih netral-jender, supaya dapat menarik anak laki-laki dalam jangkauan umur tersebut, karena mereka khawatir bahwa anak laki-laki tidak akan tertarik membaca novel yang mereka ketahui ditulis oleh seorang wanita. Ia memilih untuk menggunakan nama J. K. Rowling (Joanne Kathleen Rowling), mengambil nama neneknya sebagai nama keduanya, karena ia tidak memiliki nama tengah.[7]
Buku pertama Harry Potter diterbitkan di Britania Raya oleh Bloomsbury pada Juli 1997. Di Amerika Serikat buku ini diterbitkan oleh Scholastic pada September 1998, di mana Rowling menerima $105.000 untuk hak penerbitan Amerika Serikat — sebuah nilai yang tidak biasa bagi sebuah buku anak-anak yang dikarang oleh pengarang yang tidak dikenal (pada saat itu).[8] Khawatir bahwa para pembaca di Amerika tidak mengerti kata "philosoper" atau tidak menganggapnya sebagai tema magis (karena "Philosoper's Stone" atau batu filsuf adalah kata dalam bidang alkimia), Scholastic bersikeras untuk mengganti nama buku itu menjadi Harry Potter and the Sorcerer's Stone untuk pasar Amerika.
Selama hampir satu dasawarsa, Harry Potter telah mengalami kesuksesan besar, tidak hanya karena resensi yang positif dan strategi pemasaran penerbit Rowling, tetapi juga karena pembicaraan dari mulut ke mulut di antara para penggemarnya, terutama di antara para remaja laki-laki. Kalangan remaja laki-laki ini menjadi penting, karena selama bertahun-tahun kalangan ini semakin tidak tertarik dengan bacaan yang dianggap ketinggalan zaman ketimbang video game dan internet. Penerbit Rowling berhasil menangkap kegairahan di kalangan remaja laki-laki ini dan segera merilis keempat buku pertama berturut-turut secara cepat, sehingga kegairahan mereka tidak sempat meredup ketika Rowling bermaksud untuk istirahat menulis di antara rilis Harry Potter dan Piala Api dan Harry Potter dan Orde Phoenix, dan dengan segera terbentuklah grup pembaca yang loyal.[9] Seri ini juga mendapatkan para penggemar dewasa, dengan diterbitkannya dua edisi untuk setiap buku Harry Potter (di Kanada dan Britania Raya, tapi tidak di Amerika Serikat). Keduanya memiliki naskah yang sama persis, tetapi dengan sampul yang berbeda, untuk masing-masing edisi anak-anak dan dewasa.[10]

[sunting] Kisah

[sunting] Ringkasan plot

Untuk sinopsis per novel, lihat artikel yang relevan di masing-masing seri.
Kisah dibuka dengan perayaan tak terkendali di dunia sihir (yang biasanya merupakan komunitas yang rahasia) setelah bertahun-tahun mengalami teror oleh Lord Voldemort. Pada malam sebelumnya, Voldemort telah menemukan tempat perlindungan rahasia keluarga Potter, dan membunuh James dan Lily Potter. Namun demikian, ketika ia mengarahkan tongkat sihirnya kepada bayi mereka, Harry, kutukan pembunuh yang dikeluarkannya malah membalik kepada dirinya sendiri. Arwah Voldemort tercabik dari tubuhnya sendiri yang hancur, menghilang dari dunia sihir, tapi tidak mati. Sementara itu, satu-satunya hasil dari kutukan yang gagal itu meninggalkan bekas yang khusus di dahinya, cacat berbentuk sambaran kilat. Kekalahan misterius Voldemort memberikan Harry sebutan khusus di kalangan dunia sihir, "Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup". Sebutan ini khususnya dikarenakan tidak ada penyihir yang diarah oleh Voldemort dapat bertahan hidup melawannya.
Pada malam berikutnya, seorang penyihir membawa Harry ke rumah Bibi dan Pamannya, Dursley, tempat di mana ia akan tinggal bertahun-tahun setelahnya. Keluarga Dursley adalah famili Harry yang kejam dan merupakan orang-orang non-penyihir. Mereka senantiasa berusaha menyembunyikan latar belakang Harry yang merupakan penyihir dan keturunan penyihir, dan memberinya hukuman jika terjadi kejadian-kejadian aneh.
Pada ulang tahunnya yang kesebelas, Harry mendapatkan kontak pertamanya dengan dunia sihir, ketika ia menerima surat dari Sekolah Sihir Hogwarts, yang berusaha disembunyikan oleh Paman dan Bibinya, hingga ia tidak berhasil membaca surat tersebut. Surat itu pada akhirnya dapat dibacanya setelah ia ditemui oleh Hagrid, Pengawas Binatang Liar di Hogwarts. Hagrid memberitahunya bahwa ia sesungguhnya adalah seorang penyihir, dan surat itu memberitahunya bahwa ia disediakan tempat untuk belajar di Hogwarts. Setiap jilid dari novel Harry Potter mengisahkan mengenai satu tahun kehidupan Harry, yang kebanyakan dihabiskannya dalam pelajaran di Hogwarts, di mana ia mempelajari penggunaan sihir dan membuat ramuan. Harry juga mempelajari bagaimana mengatasi rintangan-rintangan sihir, sosial, dan emosi selama masa remajanya. Dalam periode yang sama, Voldemort juga berusaha untuk kembali ke tubuh fisiknya dan mengembalikan seluruh kekuatannya, sementara Kementrian Sihir berusaha juga untuk menolak untuk mengakui adanya ancaman akan kembalinya Voldemort. Penolakan Kementerian Sihir ini kemudian menyebabkan banyak kesulitan bagi Harry Potter.

[sunting] Dunia Harry Potter

Dunia sihir dalam kisah Harry Potter adalah dunia yang ada di dunia kita sekarang tapi juga sekaligus terpisah sama sekali secara sihir. Kalau diperbandingkan, dalam kisah fantasi Narnia dunia sihirnya merupakan dunia alternatif, sementara dalam Lord of the Rings Bumi-Tengah merupakan dunia mite pada masa lampau. Lingkungan sihir Harry Potter dikisahkan berada di tengah-tengah dunia kita saat ini, dengan benda-benda sihir yang mirip dengan benda-benda di lingkup non-sihir. Lembaga-lembaga dan lokasi-lokasinya pun mirip atau malah sama dengan yang berada di dunia nyata, seperti London. Lingkungan sihir sama sekali tidak dapat terlihat oleh populasi non-sihir (atau Muggle, misalnya: Keluarga Dursley).
Bakat sihir adalah kemampuan alami yang telah ada sejak lahir, tidak dapat muncul karena dipelajari. Mereka yang memiliki bakat sihir harus mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah seperti Hogwarts untuk dapat menguasai dan mengontrolnya. Namun demikian, ada kemungkinan anak-anak yang lahir di keluarga penyihir yang hanya memiliki sedikit bakat sihir atau malah tidak ada sama sekali (disebut "Squibs", misalnya Mrs. Figg, Argus Filch). Para penyihir belum tentu dilahirkan dalam keluarga penyihir, dan banyak dari mereka yang dilahirkan dari orang tua (para Muggle) yang sama sekali tidak mengenal sihir. Mereka yang murni berdarah penyihir seringkali tidak terbiasa dengan dunia Muggle, malah terasa lebih aneh bagi mereka ketimbang kita memandang dunia mereka. Namun demikian, dunia sihir dan elemen-elemennya yang menakjubkan itu digambarkan sebagai dunia-yang-sangat-mirip-dengan-dunia-nyata. Salah satu tema utama dalam novel ini adalah keberadaan dunia sihir dan dunia biasa; di mana para tokohnya hidup dalam lingkungan yang memiliki masalah-masalah yang "normal", sekalipun mereka hidup di antara sihir.

[sunting] Hal-hal yang berulang

  • Kemurnian darah (Harry Potter):
    Para penyihir pada umumnya memandang Muggle dengan sikap merendahkan dan curiga, masalahnya, sikap ini menjadi kefanatikan bagi sebagian kecil penyihir. Mereka yang fanatik ini mengkotak-kotakkan diri mereka atas dasar banyaknya leluhur mereka, di mana penyihir "berdarah-murni" (mereka yang keluarganya seluruhnya adalah penyihir) dianggap sebagai yang paling tinggi, penyihir "berdarah-campuran" (mereka yang memiliki keturunan penyihir dan Muggle) pada tingkat menengah, dan "kelahiran-Muggle" (mereka yang tanpa keturunan penyihir) sebagai yang terendah. Para pendukung kemurnian-darah percaya bahwa hanya mereka yang "berdarah-murni"-lah yang berhak mengontrol dunia sihir, dan tidak menganggap bahwa penyihir "kelahiran-Muggle" sebagai penyihir yang sesungguhnya. Beberapa dari mereka bahkan bertindak terlalu jauh dengan membunuhi para "kelahiran-Muggle" supaya jangan dapat mempelajari sihir. Kebanyakan kaum fanatik ini adalah berdarah-murni, sekalipun perlu dicatat bahwa Voldemort, yang mendukung fanatisme ini, sesungguhnya adalah penyihir berdarah-campuran. Selain itu, sebenarnya hanya tinggal sedikit sekali penyihir yang benar-benar berdarah-murni, oleh karena tanpa menikah dengan populasi Muggle, para penyihir lama kelamaan akan habis. Namun demikian, banyak keluarga penyihir yang menutupi bahwa ada di antara keluarga mereka yang menikahi kaum Muggle. Salah satu contoh keluarga seperti ini adalah dalam keluarga Black.[HP5]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

harry potter 6

Khawatir dengan pengalaman pertemuannya dengan Voldemort di Kementerian Sihir, Harry Potter merasa enggan untuk kembali ke Hogwarts. Dumbledore mendorongnya untuk kembali, setelah mengajaknya untuk menemui seorang mantan guru Hogwarts, Horace Slughorn. Dengan bantuan Harry, ia berhasil membujuk Slughorn agar mau kembali mengajar di Hogwarts.
Sementara itu, Pelahap Maut mulai menimbulkan kerusakan baik di kalangan Muggle (masyarakat manusia biasa non-sihir) maupun Penyihir. Mereka menghancurkan Jembatan Millennium serta menculik pembuat tongkat sihir Mr. Ollivander dan menghancurkan tokonya di Diagon Alley.
Bellatrix Lestrange berhasil membujuk Severus Snape untuk melakukan Sumpah Tak Terlanggar dengan ibu Draco Malfoy, Narcissa. Sumpah ini memastikan agar Snape melindungi Draco dan menyelesaikan tugas yang diberikan Voldemort kepada Draco, jika Draco gagal melakukannya.
Harry, Ron, dan Hermione, ketika sedang berada di Diagon Alley, mengikuti lalu melihat Draco memeasuki toko Borgin and Burkes dan mengambil bagian dalam sebuah ritual bersama kelompok Pelahap Maut. Selanjutnya, ketiga sahabat ini terus mewaspadai tindak-tanduk Draco.
Di Hogwarts, sekolah diamankan secara ketat baik oleh pihak sekolah maupun Kementerian Sihir untuk memastikan agar Pelahap Maut tidak dapat mendekati sekolah tersebut. Dengan kembalinya Slughorn mengajar Ramuan, Snape kini mendapatkan posisi untuk mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Profesor McGonagall mendorong Harry dan Ron untuk mengambil kelas Ramuan, yang kini diajar Slughorn yang mau menerima siswa dengan nilai OWL yang lebih rendah. Harry dan Ron, yang tidak membeli buku teks karena tidak menduga bahwa mereka dapat mengambil kelas itu, dipinjami buku teksnya dari kelas Ramuan.
Buku pinjaman Harry sudah dibubuhi tulisan-tulisan petunjuk yang lebih tepat untuk membuat ramuan dan mantra-mantra lain, dan dengan segera membuat Harry menjadi siswa Ramuan nomor satu melebihi siswa lainnya di kelasnya. Harry menemukan di sampulnya bahwa buku itu pernah dimiliki oleh "Pangeran Berdarah-Campuran". Hermione mencari di perpustakaan namun tidak dapat menemukan apa-apa mengenai nama ini. Setelah mengikuti petunjuk tulisan 'Pangeran Berdarah-Campuran', Harry kemudian berhasil memenangkan hadiah cairan keberuntungan, Felix Felicis, dari Profesor Slughorn karena keberhasilannya membuat sebuah ramuan yang sangat sulit.
Ketika akan mengikuti pertandingan Quidditch, Ron merasa gugup. Harry berbuat seolah-olah ia menambahkan cairan keberutungan ke minuman Ron, untuk menaikkan kepercayaan diri Ron. Akibatnya, Ron sukses besar menjadi kiper Quidditch dari tim Gryffindor, dan mendapatkan cinta Lavender Brown. Keduanya berciuman di pesta perayaan kemenangan Gryffindor di Ruang Rekreasi. Hermione yang melihat ini, lari meninggalkan ruangan itu sambil menangis, diikuti oleh Harry. Kepada Harry, Hermione mengakui bahwa ia memiliki perasaan kepada Ron dan mengerti bagaimana perasaan Harry ketika Ginny, yang ditaksirnya, berciuman dengan Dean Thomas.
Pada liburan Natal, Harry menghabiskan liburannya bersama keluarga Weasley, sambil berdiskusi bersama Mr. Weasley, Remus Lupin, dan Tonks mengenai situasi Hogwarts. Tiba-tiba terjadi serangan Pelahap Maut yang hendak menculik Harry. Mereka berhasil menggagalkan upaya Pelahap Maut itu, namun rumah keluarga Weasley, The Burrows, meledak dan terbakar. Kejadian ini menyebabkan Harry menyesali diri karena dialah yang menimbulkan bahaya kepada orang-orang yang disayanginya.
Dumbledore mengungkapkan memori Tom Riddle—nama asli Voldemort—melalui Pensieve kepada Harry, juga memori Slughorn di mana Riddle menanyakan mengenai suatu Sihir Hitam. Sayangnya memori itu telah diubah Slughorn sehingga tidak diketahui sihir hitam apa yang dibicarakan Slughorn dengan Riddle. Dumbledore mengatakan bahwa Slughorn mungkin takut akan konsekuensinya jika pembicaraan ini terungkap. Dumbledore juga percaya bahwa jika Sihir Hitam yang dibicarakan ini terungkap, maka mereka akan memiliki jalan untuk mengalahkan Voldemort. Karenanya, Dumbledore menyuruh Harry untuk berusaha mendekati Slughorn supaya akhirnya ia mau memberikan memori yang asli.
Dengan menggunakan cairan keberuntungan Felix Felicis yang dimenangkannya pada awal tahun masuk sekolah, Harry 'secara beruntung' berhasil mempertemukan Slughorn dengan Hagrid. Keduanya mabuk setelah upacara penguburan laba-laba raksasa Aragog milik Hagrid, dan Harry berhasil membujuk dan meyakinkan Slughorn untuk memberikan memori yang sesungguhnya.
Memori ini mengungkapkan bahwa Riddle menanyakan mengenai Horcrux, sebuah cara dalam Sihir Hitam untuk membagi jiwa ke dalam Horcrux sehingga pembuatnya tidak dapat mati selama Horcruxnya tidak dihancurkan. Dumbledore mengungkapkan bahwa Buku Harian Riddle (yang dihancurkan Harry pada buku kedua) dan sebuah Cincin milik ibu Voldemort adalah dua dari keenam Horcrux yang dibuat Riddle. Mereka harus mencari seluruh Horcrux dan menghancurkan semuanya supaya Voldemort dapat dikalahkan.
Harry kemudian semakin mencurigai tindak-tanduk Draco, mengikutinya di sekolah, tapi gagal untuk mengetahui apa yang direncanakan oleh Draco. Harry percaya bahwa Draco ada dibalik dua upaya untuk membahayakan hidup Dumbledore: yang pertama melalui kalung mematikan yang dititipkan oleh entah siapa kepada Katie Bell (di bawah Kutukan Imperius) untuk diberikan kepada Dumbledore sebagai hadiah; yang kedua melalui sebuah botol minuman Mead beracun yang hendak dihadiahkan Slughorn, juga terkena kutukan yang sama, kepada Dumbledore. Kejadian yang kedua ini diketahui secara tidak sengaja ketika minuman itu diminum oleh Ron.
Ron kemudian dirawat di rumah sakit, dan ketika sedang tidak sadar, ia mengigaukan nama Hermione di hadapan Lavender, yang langsung patah hati. Setelah insiden ini, Harry memojokkan Draco di sebuah toilet dan bertarung dengannya di sana. Harry menggunakan mantera Sectumsempra, yang pernah dibacanya di buku milik Pangeran Berdarah-Campuran. Mantera itu dengan hebat melukai dan membahayakan jiwa Draco. Snape tiba dengan segera, terbawa oleh Sumpah Tak Terlanggarnya, dan menyembuhkan Draco sementara Harry pergi tergesa-gesa. Ginny meyakinkan Harry untuk menyembunyikan buku itu di Kamar Kebutuhan untuk menghindarkan dirinya dari menggunakan buku itu lagi. Di Kamar itu, mereka menemukan Lemari Penghilang, yang sedang diusahakan perbaikannya oleh Draco, namun baik Harry maupun Ginny sama sekali tidak menyadari mengenainya. Ginny menyembunyikan buku itu dan kemudian berciuman dengan Harry.
Dumbledore mengajak Harry untuk membantunya menemukan salah satu Horcrux lainnya, di sebuah tempat yang baru diketahuinya. Keduanya ber-apparate ke sebuah tebing tepi laut, dan masuk ke sebuah gua tempat Horcrux itu disembunyikan. Di tengah-tengah danau di dalam gua itu terdapat sebuah pulau kristal kecil, dan mereka menemukan sebuah ceruk berisi cairan beracun yang di dasarnya terdapat Horcrux itu. Untuk dapat mengambil Horcruxnya, cairan itu harus diminum. Dumbledore menyuruh Harry untuk memaksa dirinya tetap minum cairan beracun itu, karena ia mengetahui bahwa cairan itu dapat mengubah pikiran. Dumbledore menghabiskan cairan beracun itu dengan dibantu-paksa diminumkan oleh Harry. Setelah habis, sementara Dumbledore memulihkan diri dari cairan itu, Harry meraih Horcrux yang berbentuk kalung liontin potret. Saat itu, sangat banyak Inferi (mayat hidup) bergerak dari dasar danau dan menyerang mereka. Dumbledore berhasil kembali ke kesadarannya tepat pada waktunya dan membakar semua Inferi itu, lalu keduanya ber-apparate kembali ke Menara Astronomi di Hogwarts.
Dumbledore, yang masih lemah akibat minum cairan beracun itu, menyuruh Harry untuk memanggilkan Snape. Namun sebelum Harry sempat pergi, terdengar langkah-langkah kaki dan Dumbledore menyuruh Harry untuk bersembunyi di sisi bawah tingkap Menara itu. Suara langkah kaki itu ternyata adalah Draco, yang bersiap untuk membunuh Dumbledore atas perintah Voldemort, tetapi—dari dalam dirinya—ia tidak dapat melakukannya. Sementara itu, Lemari Penghilang telah berhasil diperbaiki sehingga Bellatrix dan para Pelahap Maut lainnya berhasil memasuki Hogwarts melalui Lemari pasangannya di toko Borgin and Burkes, dan menggabungkan diri dengan Draco di Menara berhadapan dengan Dumbledore. Snape secara diam-diam datang melalui tingkap bawah tempat Harry bersembunyi, memberi isyarat agar Harry tetap diam, lalu naik ke atas dan bergabung dengan Pelahap Maut lainnya. Snape lalu melontarkan kutukan Avada Kedavra terhadap Dumbledore yang langsung membunuhnya. Kutukan itu menghantam Dumbledore dan melempar tubuh Dumbledore jatuh ke bawah dari sisi Menara. Snape, Draco, dan Pelahap Maut lainnya meninggalkan sekolah, Bellatrix melontarkan lambang Pelahap Maut ke atas sekolah, lalu menghancurkan Aula Besar, dan membakar pondok Hagrid sambil tertawa riang.
Harry berusaha untuk menghentikan mereka, dan menyerang Snape menggunakan mantera Sectumsempra. Namun Snape menangkis mantera itu dan berhasil menjatuhkan Harry. Sebelum pergi, Snape mengatakan bahwa dialah pencipta mantera Sectumsempra dan bahwa dialah 'Pangeran Berdarah-Campuran' itu.
Para staf guru dan murid-murid Hogwarts berkabung atas kematian Dumbledore dan Ginny menghibur Harry atas kejadian itu. Ketika ditanya, Harry sama sekali menolak untuk mengatakan kepada Profesor McGonagall mengenai apa yang dilakukannya bersama Dumbledore.
Belakangan, Harry mengungkapkan kepada Ron dan Hermione bahwa Horcrux yang ditemukannya bersama Dumbledore itu adalah palsu, berisikan sebuah pesan dari "R.A.B." yang menyatakan bahwa R.A.B. ini telah mengambil Horcrux itu dan berharap agar Voldemort tidak lagi dapat hidup abadi. Harry memberi tahu kedua rekannya bahwa ia tidak akan kembali ke sekolah pada tahun yang akan datang, dan sebaliknya akan mencari R.A.B. dan Horcrux-Horcrux lainnya supaya Voldemort pada akhirnya dapat dibinasakan. Ron dan Hermione mengingatkan Harry bahwa mereka adalah sahabat-sahabatnya dan mereka akan turut pergi bersama Harry dalam misinya itu.
Film ini diakhiri dengan ketiga sahabat itu melihat Fawkes, burung Phoenix milik Dumbledore, terbang menjauh dari batas sekolah Hogwarts

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

eragon

nAsal-usul dan publikasi

Christopher Paolini started reading fantasy books when he was ten years old, but was "frustrated" by the "absence of quality writing". Christopher Paolini mulai membaca buku-buku fantasi ketika ia berusia sepuluh tahun, tetapi "frustasi" oleh "tidak adanya tulisan berkualitas". At the age of fourteen, Paolini started writing the first novel in a series of four books, but he could not get beyond a few pages because he had "no idea" where he was going. Pada usia empat belas tahun, Paolini mulai menulis novel pertama dalam rangkaian empat buku, tetapi dia tidak bisa melampaui beberapa halaman karena dia "tidak tahu" di mana ia akan pergi. He began reading everything he could about the "art of writing", and then plotted the whole Inheritance Cycle book series. Dia mulai membaca segala yang bisa tentang "seni menulis", dan kemudian merencanakan seluruh Warisan Siklus buku seri. After a month of planning out the series, he started writing the draft of Eragon by hand. Setelah sebulan perencanaan keluar seri, ia mulai menulis draft Eragon dengan tangan. It was finished a year later, and Paolini began writing the "real" version of the book. [ 1 ] After another year of editing, Paolini's parents saw the final manuscript. Itu selesai setahun kemudian, dan Paolini mulai menulis "sebenarnya" versi buku. [1] Setelah satu tahun editing,'s orang tua Paolini melihat naskah akhir. They immediately saw its potential and decided to self publish the book. Mereka langsung melihat potensi dan memutuskan untuk diri menerbitkan buku. They had Eragon printed through Lightning Source , a print on demand company that is a subsidiary of Ingram , a major book wholesaler. Mereka telah Eragon dicetak melalui Lightning Source , yang mencetak pada permintaan perusahaan yang merupakan anak perusahaan dari Ingram , grosir buku besar. "This meant that even though Eragon was self-published, it was available in any quantity, at any time, and, because of Lightning Source's connection with Ingram, in all bookstores in the United States, including online booksellers," Paolini said. [ 2 ] Paolini created the cover art for this edition of Eragon , which featured Saphira 's eye on the cover. "Ini berarti bahwa meskipun Eragon menerbitkan sendiri, itu tersedia dalam jumlah apapun, setiap saat, dan, karena Lightning's koneksi Sumber dengan Ingram, di semua toko buku di Amerika Serikat, termasuk penjual buku online," ujar Paolini. [ 2] Paolini menciptakan seni cover untuk edisi Eragon, yang menampilkan Saphira mata 'di sampulnya. He also drew the maps inside the book. [ 3 ] Dia juga menggambar peta di dalam buku itu. [3]
Paolini and his family toured across the United States to promote the book. Paolini dan keluarganya melakukan tur di seluruh Amerika Serikat untuk mempromosikan buku itu. Over 135 talks were given at bookshops, libraries, and schools, many with Paolini dressed up in a medieval costume; but the book did not receive much attention. Lebih dari 135 pembicaraan diberikan di toko-toko buku, perpustakaan, dan sekolah, banyak dengan berpakaian Paolini di sebuah kostum abad pertengahan, tetapi buku tidak menerima banyak perhatian. Paolini said he "would stand behind a table in my costume talking all day without a break – and would sell maybe forty books in eight hours if I did really well. [...] It was a very stressful experience. I couldn't have gone on for very much longer." [ 1 ] In the summer of 2002, American novelist Carl Hiaasen was on vacation in one of the cities that Paolini gave a talk in. While there, his stepson bought a copy of Eragon that he "immediately loved". [ 1 ] He showed it to his stepfather, who brought the book to the attention of the publishing house Alfred A. Knopf . Paolini mengatakan dia "akan berdiri di belakang meja di kostum saya berbicara sepanjang hari tanpa istirahat - dan akan menjual buku mungkin empat puluh delapan jam jika aku benar-benar baik [...] Itu adalah pengalaman yang sangat menegangkan aku tidak bisa.. telah pergi untuk waktu yang lebih lama lagi. " [1] Pada musim panas tahun 2002, novelis Amerika Carl Hiaasen sedang berlibur di salah satu kota yang Paolini memberi ceramah masuk Sementara di sana, anak tirinya membeli salinan Eragon bahwa ia " segera mencintai ". [1] Dia menunjukkan kepada ayah tirinya, yang membawa buku ke perhatian penerbit Alfred A. Knopf . Michelle Frey, executive editor at Knopf, contacted Paolini and his family to ask if they were interested in having Knopf publish Eragon . Michelle Frey, editor eksekutif di Knopf, dihubungi Paolini dan keluarganya untuk menanyakan apakah mereka tertarik untuk memiliki Knopf mempublikasikan Eragon. The answer was yes, and after another round of editing, Knopf published Eragon in August 2003. Jawabannya adalah ya, dan setelah satu putaran mengedit, Djamal Eragon diterbitkan pada bulan Agustus 2003. It also led to a new cover, drawn by John Jude Palencar . [ 4 ] Hal ini juga menyebabkan penutup yang baru, ditarik oleh John Jude Palencar . [4]

[ edit ] Inspiration and influences [ sunting ] Inspirasi dan pengaruh

Seorang pria botak mengenakan kacamata tanpa bingkai sedang duduk di meja autographing buku. Dia mengenakan mantel olahraga. Segelas anggur dan setumpuk buku di atas meja.
Paolini received much inspiration from Philip Pullman , the author of the fantasy book series His Dark Materials . Paolini menerima inspirasi banyak dari Philip Pullman , penulis seri buku fantasi His Dark Materials .
Paolini cites old myths , folk tales , medieval stories, the epic poem Beowulf , and authors JRR Tolkien and Eric Rücker Eddison as his biggest influences in writing. Paolini mengutip tua mitos , cerita rakyat , cerita abad pertengahan, puisi epik Beowulf , dan penulis JRR Tolkien dan Eric Rucker Eddison sebagai pengaruh terbesar dalam menulis. Other literary influences include David Eddings , Andre Norton , Brian Jacques , Anne McCaffrey , Raymond E. Feist , Mervyn Peake , Ursula K. Le Guin , and Frank Herbert . [ 5 ] Paolini has also received inspiration from the two authors Philip Pullman and Garth Nix . pengaruh sastra lainnya termasuk David Eddings , Andre Norton , Brian Jacques , Anne McCaffrey , Raymond E. Feist , Mervyn Peake , Ursula K. Le Guin , dan Frank Herbert . [5] Paolini juga menerima inspirasi dari dua penulis Philip Pullman dan Garth Nix . In Eragon , Paolini "deliberately" included the "archetypal ingredients" of a fantasy book – a quest, a journey of experience, revenge, romance, betrayal, and a "special" sword. [ 1 ] Di Eragon, Paolini "sengaja" termasuk "bahan pola dasar" dari sebuah buku fantasi - pencarian, perjalanan pengalaman, balas dendam, percintaan, pengkhianatan, dan "khusus" pedang. A [1]
The ancient language used by the elves in Eragon is based "almost entirely" on Old Norse , German , Old English , and Russian . Bahasa kuno yang digunakan oleh elf dalam Eragon adalah berdasarkan "hampir seluruhnya" di Old Norse , Jerman , Inggris Kuno , dan Rusia . Paolini commented that he "did a god-awful amount of research into the subject when I was composing it. I found that it gave the world a much richer feel, a much older feel, using these words that had been around for centuries and centuries. I had a lot of fun with that." [ 6 ] Picking the right name for the characters and places was a process that could take "days, weeks, or even years". Paolini berkomentar bahwa dia "melakukan jumlah dewa-mengerikan dari penelitian menjadi subjek ketika saya menulis itu saya temukan. Bahwa memberi dunia merasa jauh lebih kaya, merasa jauh lebih tua, menggunakan kata-kata yang telah ada selama berabad-abad dan berabad-abad punya. Saya banyak bersenang-senang dengan itu. " [6] Memilih nama yang tepat untuk karakter dan tempat adalah suatu proses yang bisa memakan waktu "hari, minggu, atau bahkan bertahun-tahun". Paolini said that "if I have difficulty choosing the correct moniker, I use a placeholder name until a replacement suggests itself." [ 2 ] He added that he was "really lucky" with the name Eragon , "because it's just dragon with one letter changed." Paolini mengatakan bahwa "jika saya memiliki kesulitan memilih moniker benar, saya menggunakan nama placeholder sampai pengganti menunjukkan dirinya sendiri." [2] Ia menambahkan bahwa ia "sangat beruntung" dengan nama Eragon , "karena itu hanya naga dengan satu huruf berubah. " He thought the name fit the book perfectly, but some of the other names caused him "real headaches". [ 6 ] Dia pikir nama itu cocok buku sempurna, tetapi beberapa nama lain menyebabkan dia "sakit kepala yang nyata". [6]
Sebuah sungai mengalir melalui sebuah lembah datar dengan pegunungan di latar belakang.
Paolini received inspiration from Paradise Valley, Montana ( Emigrant Peak pictured ). Paolini menerima inspirasi dari Paradise Valley, Montana (Emigrant Peak foto).
The landscape in Eragon is based on the "wild territory" of Paolini's home state, Montana . [ 1 ] He said in an interview that "I go hiking a lot, and oftentimes when I'm in the forest or in the mountains, sitting down and seeing some of those little details makes the difference between having an okay description and having a unique description." [ 6 ] Paolini also said that Paradise Valley, Montana is "one of the main sources" of his inspiration for the landscape in the book. Eragon takes place in the fictional continent Alagaësia. Pemandangan di Eragon didasarkan pada "wilayah liar" rumah negara Paolini, Montana . [1] Ia mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa "aku pergi hiking banyak, dan seringkali ketika saya di hutan atau di pegunungan, duduk turun dan melihat beberapa dari mereka detail-detail kecil yang membuat perbedaan antara memiliki deskripsi yang oke dan memiliki deskripsi yang unik ". [6] Paolini juga mengatakan bahwa Paradise Valley, Montana adalah "salah satu sumber utama" dari inspirasinya untuk lanskap dalam buku. Eragon terjadi dalam fiksi Alagaesia benua. Paolini "roughed out" the main history of the land before he wrote the book, but he did not draw a map of it until it became important to see where Eragon was traveling. Paolini "mengasarinya keluar" sejarah utama tanah sebelum ia menulis buku itu, tetapi ia tidak menggambar peta sampai menjadi penting untuk melihat di mana Eragon sedang bepergian. He then started to get history and plot ideas from seeing the landscape depicted. [ 6 ] Ia kemudian mulai mendapatkan ide-ide dan plot sejarah dari melihat pemandangan digambarkan. [6]
Paolini chose to have Eragon mature throughout the book because "for one thing, it's one of the archetypal fantasy elements". Paolini memilih untuk memiliki Eragon dewasa di seluruh buku karena "untuk satu hal, itu salah satu unsur fantasi pola dasar". He thought Eragon's growth and maturation throughout the book "sort of mirrored my own growing abilities as a writer and as a person, too. So it was a very personal choice for that book." [ 6 ] Eragon's dragon, Saphira, was imagined as "the perfect friend" by Paolini. [ 1 ] He decided to go in a more "human direction" with her because she is raised away from her own species, in "close mental contact" with a human. Dia berpikir's pertumbuhan Eragon dan pematangan seluruh buku "jenis cermin tumbuh sendiri kemampuan saya sebagai penulis dan sebagai pribadi, juga buku. Jadi, sangat pribadi pilihan itu untuk." [6] 's naga Eragon, Saphira, telah dibayangkan sebagai "teman yang sempurna" oleh Paolini. [1] Ia memutuskan untuk pergi dalam "lebih manusiawi" arah dengan karena dia yang dibangkitkan dari spesies sendiri, di "hubungi mental dekat" dengan manusia. "I considered making the dragon more dragon-like, if you will, in its own society, but I haven't had a chance to explore that. I went with a more human element with Saphira while still trying to get a bit of the magic, the alien, of her race." [ 6 ] Paolini made Saphira the "best friend anyone could have: loyal, funny, brave, intelligent, and noble. She transcended that, however, and became her own person, fiercely independent and proud." [ 2 ] "Saya dianggap membuat naga yang lebih mirip naga, jika Anda akan, dalam masyarakat sendiri, tapi saya tidak punya kesempatan untuk mengeksplorasi bahwa aku pergi. Dengan elemen yang lebih manusiawi dengan Saphira sementara masih mencoba untuk mendapatkan sedikit dari , orang asing, dia. ras sihir " [6] Paolini dibuat Saphira yang "orang sahabat bisa: setia, lucu, berani, cerdas, dan mulia dan. Dia melampaui itu, bagaimanapun, dan sendiri menjadi orang, sangat mandiri bangga ". [2]

[ edit ] Plot summary [ sunting ] Ringkasan Plot

There is a prologue, in which a Shade – a sorcerer possessed by evil spirits – named Durza and some Urgals kill two Elves and chase an Elven-lady across a forest. Ada prolog, di mana Shade - ahli sihir yang dimiliki oleh roh-roh jahat - bernama Durza dan beberapa Urgal membunuh dua Peri dan mengejar sebuah Peri-wanita di hutan. The Elven-lady has a blue stone, later revealed to be a dragon egg. Para Peri-lady memiliki batu biru, kemudian diturunkan menjadi sebuah telur naga. The Elven-lady gets captured, but sends the egg to the Spine to keep it safe. Para Peri-lady mendapat ditangkap, tapi mengirim telur ke Spine untuk tetap aman.
Eragon lives with his uncle Garrow and cousin Roran on a farm on the borders of a small village called Carvahall . Eragon tinggal dengan pamannya Garrow dan sepupunya Roran di sebuah pertanian di perbatasan sebuah desa kecil bernama Carvahall . While hunting in the Spine , a large mountain range, Eragon is surprised to see a polished blue stone appear in front of him. Sedangkan berburu di Spine , berbagai gunung besar, Eragon terkejut melihat sebuah batu biru dipoles muncul di depannya. A few days later, Eragon witnesses a baby dragon hatch from the "stone", and realizes that it is actually a dragon egg. Beberapa hari kemudian, Eragon saksi bayi naga menetas dari "batu", dan menyadari bahwa sebenarnya telur naga. Eragon names the dragon Saphira . Eragon nama naga Saphira . He raises the dragon in secret until two of King Galbatorix 's servants, the Ra'zac , come to Carvahall looking for the egg. Dia mengangkat naga secara rahasia sampai dua Raja Galbatorix hamba ', yang Ra'zac , datang ke Carvahall mencari telur. Eragon and Saphira manage to escape by hiding in the forest, but Garrow is fatally wounded and the house and farm are burned down by the Ra'zac. Eragon dan Saphira berhasil melarikan diri dengan bersembunyi di hutan, tetapi Garrow yang terluka parah dan rumah dan lahan yang dibakar oleh Ra'zac. Once Garrow dies, Eragon is left with no reason to stay in Carvahall, so he goes after the Ra'zac, seeking vengeance for the destruction of his home and his uncle's death. Setelah Garrow meninggal, Eragon dibiarkan tanpa alasan untuk tinggal di Carvahall, sehingga ia pergi setelah Ra'zac, mencari pembalasan untuk menghancurkan rumahnya dan kematian pamannya. He is accompanied by Brom, an elderly story-teller, who insists on helping him and Saphira. Dia disertai oleh Brom, cerita teller-tua, yang berkeras untuk membantu dirinya dan Saphira.
Eragon becomes a Dragon Rider through his bond with Saphira. Eragon menjadi Rider Dragon melalui ikatan dengan Saphira. On the journey, Brom teaches Eragon sword fighting , magic , the Ancient Language, and the ways of the Dragon Riders. Di perjalanan, Brom mengajarkan Eragon pertempuran pedang , sihir , Bahasa Kuno, dan cara para Penunggang Naga. Their travels bring them to Teirm , where they are able to track the Ra'zac to the southern city of Dras-Leona . perjalanan mereka membawa mereka ke Teirm , di mana mereka dapat melacak Ra'zac ke kota selatan Dras-Leona . Although they manage to infiltrate the city, Eragon encounters the Ra'zac in a cathedral and he and Brom are forced to flee. Meskipun mereka berhasil menyusup ke kota, Eragon pertemuan Ra'zac dalam katedral dan dia dan Brom dipaksa untuk melarikan diri. Later that night, their camp is ambushed by the Ra'zac. Malam itu, kamp mereka disergap oleh Ra'zac. A stranger named Murtagh rescues them, but Brom is gravely injured. Seorang asing bernama Murtagh menyelamatkan mereka, tetapi Brom yang terluka parah. Knowing that he is about to die, Brom tells Eragon that he used to be a Dragon Rider. Mengetahui bahwa ia akan mati, Brom berkata Eragon bahwa ia digunakan untuk menjadi Penunggang Naga. His dragon's name was also Saphira, but an evil Dragon Rider named Morzan killed her. nama naga Nya juga Saphira, tapi Dragon Rider jahat bernama Morzan membunuhnya. Brom then avenged Saphira's death and killed Morzan. Brom kemudian membalas dendam kematian Saphira dan membunuh Morzan. After telling Eragon this, Brom dies. Setelah memberitahu Eragon ini, Brom mati.
Murtagh becomes Eragon's new companion and they travel to the city Gil'ead to find information on how to find the Varden, a group of rebels who want to see the downfall of Galbatorix. Murtagh menjadi baru pendamping's Eragon dan mereka melakukan perjalanan ke kota Gil'ead untuk mencari informasi mengenai bagaimana mencari kaum Varden, sebuah kelompok pemberontak yang ingin melihat jatuhnya Galbatorix. While stopping near Gil'ead, Eragon is captured and imprisoned in the same jail that holds a woman he has been receiving dreams about. Sementara berhenti dekat Gil'ead, Eragon ditangkap dan dipenjarakan di penjara yang sama yang memegang seorang wanita yang telah menerima mimpi tentang. When he breaks out of his cell, he discovers that she is an Elf . Ketika ia istirahat dari sel, ia menemukan bahwa ia adalah Elf . Murtagh and Saphira stage a rescue, and Eragon escapes with the unconscious Elf. Murtagh dan Saphira tahap penyelamatan, dan lolos Eragon dengan Elf sadar. During the escape, Eragon and Murtagh battle with Durza . Selama melarikan diri, Eragon dan Murtagh pertempuran dengan Durza . Murtagh shoots Durza between the eyes with an arrow, and the Shade disappears in a cloud of mist. Murtagh tunas Durza antara mata dengan panah, dan Shade menghilang di awan kabut.
After escaping, Eragon contacts the unconscious Elf telepathically, and discovers that her name is Arya . Setelah melarikan diri, kontak Eragon Peri sadar telepati, dan menemukan bahwa namanya adalah Arya . She tells them that she was poisoned while in captivity and that only a potion in the Varden's possession can cure her. Dia mengatakan kepada mereka bahwa ia diracun saat berada dalam pemeliharaan dan hanya ramuan dalam kepemilikan kaum Varden bisa menyembuhkannya. Arya is able to give directions to the exact location of the Varden: a city called Tronjheim, which sits in the mountain Farthen Dûr . Arya dapat memberikan petunjuk arah ke lokasi yang tepat dari kaum Varden: sebuah kota yang bernama Tronjheim, yang duduk di gunung Farthen Dur . She also adds that they have only four days to reach the Varden or she will die. Dia juga menambahkan bahwa mereka hanya memiliki empat hari untuk mencapai Varden atau dia akan mati. The group go in search of the Varden, both to save Arya's life and to escape Galbatorix's wrath. Kelompok ini pergi mencari kaum Varden, baik untuk menyelamatkan nyawa Arya dan melarikan diri murka Galbatorix. When they arrive in Farthen Dûr, Eragon is led to the leader of the Varden, Ajihad . Ketika mereka tiba di Farthen Dur, Eragon dipimpin kepada pemimpin kaum Varden, Ajihad . Ajihad imprisons Murtagh after finding out that he is the son of Morzan. Ajihad memenjarakan Murtagh setelah mengetahui bahwa ia adalah putra Morzan. Ajihad tells Eragon that Durza was not destroyed by Murtagh's well placed arrow, because the only way to kill a Shade is with a stab to the heart. Ajihad memberitahu Eragon bahwa Durza tidak hancur oleh panah Murtagh baik ditempatkan, karena satu-satunya cara untuk membunuh Shade adalah dengan menusuk ke jantung.
Eragon is at last able to rest, but a new invasion is imminent. Eragon akhirnya dapat beristirahat, tetapi invasi baru sudah dekat. As the battle begins, the Varden and the Dwarves are pitted against an enormous army of Urgals , deployed by Durza and Galbatorix. Ketika pertempuran dimulai, kaum Varden dan Kurcaci adalah diadu pasukan besar Urgal , digunakan oleh Durza dan Galbatorix. During the battle, Eragon faces the Durza again. Selama pertempuran, Eragon menghadapi Durza lagi. Durza, having gravely wounded Eragon's back, is about to capture him but is distracted by Saphira and Arya. Durza, setelah serius terluka kembali Eragon, adalah untuk menangkap dia tapi terganggu oleh Saphira dan Arya. Durza's attention is diverted long enough for Eragon to stab him in the heart with his sword. Durza perhatian dialihkan cukup lama bagi Eragon untuk menusuknya di jantung dengan pedangnya. After Durza's death, the Urgals are released from a spell which had been placed on them, and begin to fight among themselves. Setelah kematian Durza, para Urgal dilepaskan dari mantra yang telah ditempatkan pada mereka, dan mulai untuk melawan di antara mereka sendiri. The Varden take advantage of this opportunity to make a counter-attack, forcing off the Urgals. Kaum Varden memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat sebuah serangan balik, memaksa dari Urgal. While Eragon is unconscious, someone called The Mourning Sage contacts him telepathically and tells Eragon to come to him for training in the forest of the Elves, Dû Weldenvarden. Sementara Eragon tidak sadar, seseorang bernama Sage Kontak Berkabung dia telepati dan memberitahu Eragon untuk datang kepadanya untuk pelatihan di hutan dari Elf, Du Weldenvarden.

[ edit ] Genre [ sunting ] Genre

As described above, Paolini added in "archetypal ingredients" of a fantasy book – a quest, a journey of experience, revenge, romance, betrayal, and a "special" sword". [ 1 ] The book is described as a fantasy with Booklist writing "Paolini knows the genre well--his lush tale is full of recognizable fantasy elements and conventions". [ 7 ] The book has been compared to other books of fantasy genre such as Star Wars and Lord of the Rings . Reviews have also felt that the plot genre is too similar to those other fantasy novels. [ 8 ] The book was called a "high fantasy" by Kirkus Review . [ 7 ] Seperti dijelaskan di atas, Paolini ditambahkan dalam "bahan pola dasar" dari sebuah buku fantasi - pencarian, perjalanan pengalaman, balas dendam, percintaan, pengkhianatan, dan "khusus" pedang ". A [1] Buku ini digambarkan sebagai sebuah fantasi dengan Booklist menulis "Paolini tahu genre dengan baik - kisah yang subur nya penuh dengan elemen fantasi dikenali dan konvensi". [7] Buku ini telah dibandingkan dengan buku-buku lain dari genre fantasi seperti Star Wars dan Lord of the Rings dirasakan. Reviews juga bahwa plot genre terlalu mirip dengan novel-novel fantasi lainnya. [8] Buku itu disebut "fantasi tinggi" oleh Kirkus Review . [7]

[ edit ] Reception [ sunting ] Penerimaan

Eragon received mixed reviews by critics. Eragon menerima tinjauan yang beragam oleh kritikus. Liz Rosenberg of The New York Times Book Review criticized it for having "clichéd descriptions", "B-movie dialogue", "awkward and gangly" prose, and a plot that "stumbles and jerks along, with gaps in logic and characters dropped, then suddenly remembered, or new ones invented at the last minute". Liz Rosenberg dari The New York Times Book Review dikritik untuk memiliki "deskripsi klise", "B-film dialog", "canggung dan kurus" prosa, dan plot yang "tersandung dan tersentak bersama, dengan kesenjangan dalam logika dan karakter menjatuhkan, lalu tiba-tiba teringat, atau yang baru diciptakan pada menit terakhir ". However, she concluded the review by noting that "for all its flaws, it is an authentic work of great talent". [ 9 ] School Library Journal wrote that Eragon is "overly simplistic in its resolution of plot issues". [ 10 ] Common Sense Media called Eragon 's dialogue "long-winded" and "clichéd", with a plot "straight out of Star Wars by way of The Lord of the Rings , with bits of other great fantasies thrown in here and there." Namun, ia menyimpulkan meninjau dengan mencatat bahwa "untuk semua kesalahannya, itu adalah sebuah karya otentik bakat besar". [9] School Library Journal menulis bahwa Eragon adalah "terlalu sederhana dalam resolusi masalah plot". [10] Common Sense Media disebut s dialog 'Eragon "bertele-tele" dan "klise", dengan plot "langsung dari Star Wars dengan cara Lord of the Rings , dengan potongan fantasi besar lainnya dilemparkan di sini dan di sana. " The website did concede that the book is a notable achievement for such a young author, and that it would be "appreciated" by younger fans. [ 8 ] Website ini memang mengakui bahwa buku ini merupakan suatu prestasi terkenal seperti penulis muda, dan bahwa itu akan "dihargai" oleh fans yang lebih muda. [8]
Favorable reviews of Eragon often focused on the book's characters and plot. IGN 's Matt Casamassina called the book "entertaining", and added that "Paolini demonstrates that he understands how to hold the reader's eyes and this is what ultimately separates Eragon from countless other me-too fantasy novels." [ 11 ] Chris Lawrence of About.com thought the book had all the "traditional ingredients" that make a fantasy novel "enjoyable". review Menguntungkan dari Eragon sering terfokus pada buku karakter dan plot. IGN 's Matt Casamassina disebut buku "menghibur", dan menambahkan bahwa "Paolini menunjukkan bahwa ia memahami cara memegang pembaca mata dan ini adalah apa yang akhirnya memisahkan Eragon dari lain yang tak terhitung jumlahnya ikut-ikutan novel fantasi ". [11] Chris Lawrence dari About.com berpikir buku itu semua "ramuan tradisional" yang membuat sebuah novel fantasi "menyenangkan". The book was a "fun read" for him because it is "quick and exciting" and "packed" with action and magic. Buku ini adalah "menyenangkan membaca" baginya karena itu adalah "cepat dan menarik" dan "dikemas" dengan tindakan dan sihir. Lawrence concluded his review by giving the book a rating of 3.8/5, commenting that "the characters are interesting, the plot is engrossing, and you know the good guy will win in the end." [ 12 ] Lawrence menyimpulkan ulasannya dengan memberikan sebuah buku peringkat 3,8 / 5, berkomentar bahwa "karakter yang menarik, plot yang mengasyikkan, dan kau tahu orang baik akan menang pada akhirnya." [12]
Eragon was the third best-selling children's hardback book of 2003, [ 13 ] and the second best-selling paperback of 2005. [ 14 ] It placed on the New York Times Best Seller list for 121 weeks. [ 15 ] In 2006, the novel was awarded with a Nene Award by the children of Hawaii . [ 16 ] It won the Rebecca Caudill Young Reader's Book Award the same year. [ 17 ] Eragon penjualan terbaik ketiga-hardback buku anak-anak tahun 2003, [13] dan paperback terlaris kedua tahun 2005. [14] Ini ditempatkan pada York Times Best Seller daftar baru selama 121 minggu. [15] Pada tahun 2006, novel dianugerahi dengan Penghargaan Nene oleh anak-anak Hawaii . [16] Ini memenangkan Young Reader's Book Award Caudill Rebecca tahun yang sama. [17]

[ edit ] Film adaptation [ sunting ] Film adaptasi

Lihat sebuah gunung dengan tebing curam dan struktur berkubah yang dibangun di tepian.
Aerial photography of the Ság mountain, which served as the backdrop for Farthen Dûr in the film adaption of the book. Fotografi udara gunung Sag, yang menjabat sebagai latar bagi Farthen Dur dalam film adaptasi buku ini.
A film adaption of Eragon was released in the United States on December 15, 2006. Sebuah adaptasi film Eragon ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 15 Desember 2006. Plans to create the film were first announced in February 2004, when 20th Century Fox purchased the rights to Eragon . Rencana untuk membuat film itu pertama kali diumumkan pada bulan Februari 2004, ketika 20th Century Fox membeli hak untuk Eragon. The film was directed by first-timer Stefen Fangmeier , and written by Peter Buchman. [ 18 ] Edward Speleers was selected for the role of Eragon. [ 19 ] Over the following months, Jeremy Irons , John Malkovich , Chris Egan and Djimon Hounsou were all confirmed as joining the cast. [ 20 ] Principal photography for the film took place in Hungary and Slovakia . [ 21 ] Film ini disutradarai oleh pertama-timer Stefen Fangmeier , dan ditulis oleh Peter Buchman. [18] Edward Speleers dipilih untuk peran Eragon. [19] Selama bulan-bulan berikutnya, Jeremy Irons , John Malkovich , Chris Egan dan Djimon Hounsou yang semua dikukuhkan sebagai pemain bergabung. [20] Pokok fotografi untuk film terjadi di Hungaria dan Slowakia . [21]
The film received mostly negative reviews, garnering a 15% approval rating at Rotten Tomatoes ; [ 22 ] the tenth worst of 2006. [ 23 ] The Seattle Times described it as "technically accomplished, but fairly lifeless and at times a bit silly". [ 24 ] The Hollywood Reporter said the world of Eragon was "without much texture or depth". [ 25 ] The story was labelled "derivative" by The Washington Post , [ 26 ] and "generic" by the Las Vegas Weekly . [ 27 ] Newsday stressed this point further, asserting that only "nine-year-olds with no knowledge whatsoever of any of the six Star Wars movies" would find the film original. [ 28 ] The acting was called "lame" by the Washington Post, [ 26 ] as well as "stilted" and "lifeless" by the Orlando Weekly . [ 29 ] The dialogue was also criticized: MSNBC labelled it "silly"; [ 30 ] the Las Vegas Weekly called it "wooden". [ 27 ] Positive reviews described the film as "fun" [ 31 ] and "the stuff boys' fantasies are made of". [ 32 ] The CGI work was called "imaginative" and Saphira was called a "magnificent creation". [ 33 ] Paolini stated he enjoyed the film, particularly praising the performances of Jeremy Irons and Ed Speleers . [ 34 ] Film ini mendapat review negatif kebanyakan, mengumpulkan persetujuan rating 15% di Rotten Tomatoes ; [22] yang terburuk kesepuluh tahun 2006. [23] The Seattle Times menggambarkannya sebagai "dicapai, tapi cukup tak bernyawa dan pada waktu yang sedikit teknis konyol". [24] The Hollywood Reporter mengatakan dunia Eragon "tanpa tekstur banyak atau kedalaman". [25] Cerita ini berlabel "derivatif" oleh The Washington Post , [26] dan "generik" oleh Las Vegas Mingguan. [27 ] Newsday menekankan hal ini lebih lanjut, menyatakan bahwa hanya "sembilan-year-olds tanpa pengetahuan apapun dari setiap dari enam Star Wars film "akan menemukan film asli. [28] akting itu disebut "lumpuh" oleh Washington Post, [26] dan juga sebagai "kaku" dan "bernyawa" oleh Mingguan Orlando . [29] dialog ini juga dikritik: MSNBC berlabel itu "konyol"; [30] Las Vegas Mingguan menyebutnya "kayu". itu [27] review positif menggambarkan film sebagai "fun" [31] dan "'anak laki-laki hal fantasi yang dibuat dari". [32] The CGI bekerja disebut "imajinatif" dan Saphira disebut "penciptaan luar biasa". [33] Paolini lain ia menikmati film, terutama memuji kinerja Jeremy Irons dan Ed Speleers . [34]
Eragon grossed approximately $75 million in the United States and $173.9 million elsewhere, totaling $249 million worldwide. [ 35 ] Eragon is the thirteenth highest grossing fantasy- live action film within the United States; twenty-first when adjusted for inflation . [ 36 ] It is the highest grossing film with a dragon at its focal point, [ 37 ] and the second highest grossing film of the sword and sorcery subgenre. [ 38 ] Eragon was in release for seventeen weeks in the United States, opening on December 15, 2006 and closing on April 9, 2007. [ 39 ] It opened in 3020 theaters, earning $8.7 million on opening day and $23.2 million across opening weekend, ranking second behind The Pursuit of Happyness . [ 40 ] Eragon's $75 million total United States gross was the thirty-first highest for 2006. [ 41 ] The film earned $150 million in its opening weekend across 76 overseas markets, making it the #1 film worldwide. [ 42 ] The film's $249 million total worldwide gross was the sixteenth highest for 2006. [ 43 ] Eragon meraup sekitar $ 75 juta di Amerika Serikat dan $ 173.900.000 di tempat lain, sebesar $ 249.000.000 di seluruh dunia. [35] Eragon adalah grossing fantasi-ketiga belas tertinggi live action film di Amerika Serikat; puluh satu ketika disesuaikan dengan inflasi . [36] Ini adalah film terlaris tertinggi dengan naga di titik fokus, [37] dan film terlaris kedua dari pedang dan ilmu sihir subgenre. [38] Eragon dalam rilis selama tujuh belas minggu di Amerika Serikat, pembukaan pada 15 Desember 2006 dan penutupan pada tanggal 9 April 2007. [39] Ini dibuka pada 3020 bioskop, produktif $ 8,7 juta pada hari pembukaan dan $ 23.200.000 di akhir pekan pembukaan, peringkat kedua di belakang The Pursuit of Happyness . [40] juta total Eragon $ 75 Amerika Serikat kotor adalah tiga puluh satu tertinggi untuk tahun 2006. [41] Film ini memperoleh $ 150 juta akhir pekan pembukaannya di 76 pasar luar negeri, membuat 1 film # seluruh dunia. [42] 249 juta total film $ kotor seluruh dunia adalah yang tertinggi keenam belas tahun 2006. [ 43]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS